DUA pemimpin bangsa memberikan pidato pada kesempatan yang berbeda dan dalam waktu yang hampir bersamaan. Datuk Sri Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, yang sedang berkunjung ke Indonesia berbicara pada forum bisnis yang dihadiri ratusan tokoh Indonesia dari berbagai kalangan (9/1). Sehari berselang Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberikan pidato pada ulang tahun ke-50 PDIP (10/1) di depan ratusan kadernya.

Dua peristiwa itu tidak berhubungan. Tetapi, mau tidak mau publik memperbandingkan isi pidato kedua pemimpin itu. Perbandingan ini tidak sepenuhnya sejajar, apple to apple. Anwar Ibrahim menjadi perdana menteri, sedangkan Megawati hanya memimpin partai.

Kendati demikian perbandingan itu menjadi bahasan yang ramai di media sosial. Banyak yang berkomentar dengan berbagai argumen. Ada yang memuji-muji Anwar dan mengkritisi Mega. Tetapi banyak juga yang membela Mega dan menganggap pidatonya berbobot.

Anwar Ibrahim berbicara di leadership forum yang mengundang tokoh-tokoh dari berbagai kalangan. Ada menteri-menteri kabinet Jokowi, ada kalangan pengambil kebijakan bisnis, pemimpin partai, pemimpin organisasi, dan bahkan kalangan oposisi pun ada.

Anwar berpidato selama 36 menit tanpa teks. Sangat singkat untuk ukuran orasi yang sangat penting. Tetapi, meminjam istilah anak zaman now, pidato Anwar Ibrahim daging semua. Padat dengan retorika dan referensi yang mendalam mengenai persoalan-persoalan strategis yang dihadapi dunia dewasa ini.

Megawati berbicara hampir 2 jam dengan duduk di atas kursi. Mega berbicara tanpa teks tapi membawa pointers untuk menandai topik-topik penting yang dibicarakannya. Mega lebih banyak berbicara mengenai kondisi internal partainya. Komunikasi politik Mega sangat khas, seperti ibu yang berbicara kepada anak-anaknya. Mega banyak bercerita mengenai pengalaman pribadi dan keluarganya.

Seperti biasanya, Mega mengutip beberapa hal dari Presiden Sukarno. Mega juga mengutip beberapa nama pahlawan perempuan Indonesia. Tampaknya Mega ingin memberikan political clue, isyarat politik mengenai kiprah pemimpin perempuan di Indonesia masa lalu, masa kini, dan masa depan. Sangat mungkin Mega sedang menciptakan kondisi untuk memuluskan jalan Puan Maharani, putrinya, untuk menjadi kandidat presiden pada pemilu 2024 mendatang.

Pidato politik 2 jam itu mungkin membosankan bagi kebanyakan orang. Tapi, bagi kader-kader PDIP pidato panjang itu wajib didengarkan. Mungkin bagi para kader yang setia, pidato Mega selama 2 jam itu menarik. Mungkin bagi mereka pidato itu terasa seperti daging semua.

Sebagian publik ada yang menyimak pidato itu sampai selesai, karena publik menunggu kalau-kalau Mega mengumumkan siapa calon presiden yang bakal diusung PDIP. Tapi, sampai pidato selesai ternyata tidak ada pengumuman nama itu. Mega malah mempertanyakan mengapa publik seperti mempressure supaya PDIP segera mengumumkan kandidat presiden. ‘’Itu kan urusan gue,’’ kata Mega dengan narasinya yang khas.

Megawati anak kandung Bung Karno. Anak kandung biologis, tapi belum tentu anak kandung ideologis. Begitu kata sebagian pengritiknya. Bung Karno, presiden pertama, proklamator kemerdekaan Indonesia, adalah ‘’undisputed leader’’, pemimpin yang tidak diragukan, kemampuan leadershipnya, wawasan, nasionalnya, wawasan geopolitiknya, semua komplet.

Bung Karno adalah singa podium, orator jago pidato yang tidak ada tandingnya. Kalau Bung Karno berpidato selama 2 jam, rakyat akan berhenti bekerja, mendengarkan melalui radio dengan penuh perhatian. Semua diksi dan narasi Bung Karno penuh makna. Setiap kata dan kalimat dipilih dengan cermat untuk tujuan yang jelas.

Narasi Bung Karno dan istilah-istilah yang diciptakannya masih sangat banyak dikutip orang sampai sekarang. Posisi politik Bung Karno sangat jelas dan tegas. Ia seorang nasionalis sejati yang menempatkan persatuan nasional di atas segalanya. Karena itu ia membenci kolonialisme dan imperialism sampai ke akar-akarnya.

Bung Karno menguasai khazanah pemikiran yang lengkap, mulai dari pemikir-pemikir Barat sampai ke pemikir Timur klasik. Dari keluasan wawasan dan referensinya itu Bung Karno kemudian menggali dan menemukan Pancasila. Ketika Bung Karno berpidato di depan forum persiapan kemerdekaan, semua orang terpukau mendengar konsepnya mengenai Pancasila.

Pancasila bukan ciptaan Bung Karno. Pancasila lahir dari kontemplasi yang mendalam mengenai kondisi nasional dan internasional, yang kemudian diproyeksikan ke depan menjadi dasar negara, yang bisa menjadi pondasi bagi penyelenggaraan sebuah negara modern.

Pancasila, pembukaan UUD 1945, dan teks proklamasi adalah dokumen sejarah nasional yang menunjukkan keluasan pandangan para founding fathers nasional mengenai kompleksitas persoalan yang bakal dihadapi Indonesia. Sebagai negara yang baru lahir, Indonesia menghadapi persoalan internasional yang kompleks setelah mengalami penjajahan ratusan tahun. Sebagai bangsa yang baru lahir Indonesia menghadapi persoalan internal yang kompleks terutama karena keragaman yang sangat luas di dalamnya.

Bung Karno berusaha merumuskan kompleksitas itu menjadi lima sila dalam Pancasila. Dokumen negara ini mempunyai nilai filosofis yang sangat mendalam, dan dianggap sejajar dengan dokumen negara-negara besar lain seperti Amerika Serikat. Ketika para founding fathers pada 17 Agustus 1945 dini hari di rumah Laksamana Maeda berhasil merumuskan teks proklamasi, ada usul supaya teks itu ditandatangani oleh semua yang hadir.

Hal itu merujuk pada Declaration of Independence negara Amerika Serikat. Dokumen yang banyak digagas oleh Thomas Jefferson itu ditandatangani oleh banyak tokoh yang hadir pada proses pembahasan. Ada usul supaya semua yang hadir di rumah Laksamana Maeda menandatangani naskah proklamasi seperti deklarasi kemerdekaan Amerika. Tetapi, akhirnya disepakati naskah itu hanya ditandatangani oleh Sukarno dan Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Bung Karno telah meletakkan pondasi yang kokoh, yang selalu relevan dengan zaman. Pemikiran-pemikiran Bung Karno yang sangat visioner itu menginspirasi banyak pemimpin dunia. Bung Karno tidak sekadar seorang aktivis politik, tetapi seorang intelektual dan pemikir yang progresif.

Megawati seringkali mengutip Bung Karno. Pada pidato ulang tahun kemarin Mega juga mengingatkan kadernya akan peran Bung Karno sebagai pendiri PNI (Partai Nasional Indonesia), yang menjadi cikal bakal PDI (Partai Demokrasi Indonesia), yang kemudian berinkarnasi menjadi PDIP.

Medengarkan pidato Megawati selama 2 jam butuh kesabaran tersendiri. Sulit menemukan jejak Bung Karno pada pidato-pidato Megawati. Tidak ada referensi yang dikutip, dan tidak terlihat visi yang bisa menjadi haluan untuk menghadapi kompleksitas persoalan global yang dihadapi Indonesia.

Datuk Anwar Ibrahim hanya berbicara setengah jam. Rasanya terlalu pendek. Andai dia berbicara selama 2 jam pun audiens akan tetap mendengarkan dengan penuh perhatian. Khazanah pemikiran Anwar sangat luas. Ia mengutip banyak tokoh besar, mulai dari Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Rusydi dan perdebatan antara iman dan filsafat dalam ‘’Tahafut al-Falasifah’’.

Anwar mengutip Keynes dan Fukuyama, juga Ortega Y. Gasset. Anwar mengutip Iqbal dan juga T.S Eliot. Anwar mengutip Sutan Takdir Alisjahbana, Hamka, Armin Pane, sampai Soedjatmoko. Anwar menunjukkan kualitas kepemimpinannya yang visioner yang bisa menjadi panduan dalam menghadapi kompleksitas persoalan yang dihadapi bangsa-bangsa Asia Tenggara.

Anwar menuangkan pandangan-pandangannya itu sejak 1996 melalui bukunya ‘’The Asia Rennaissance’’. Sekarang saatnya Anwar mewujudkan gagasannya itu menjadi kebijakan yang bisa membawa Asia bangkit menjadi kekuatan glonal.

Para pemimpin Indonesia harus banyak belajar dari Anwar Ibrahim. (*)

Penulis : Dr.Dhimam Abror
Mantan Pemimpin Redaksi Jawapos/Pembina StatusTernate.com (Group)