Pertobatan Digital Deddy Corbuzier

KEMPALAN: Deddy Corbuzier menghilang dari dunia medsos. Menghilang begitu saja. Pergi Tanpa Pesan, kata lagu .

Pertobatan Digital Deddy Corbuzier

KEMPALAN: Deddy Corbuzier menghilang dari dunia medsos. Menghilang begitu saja. Pergi Tanpa Pesan, kata lagu Melayu lama. Dua aktivis medsos, Ade Armando dan Denny Siregar, akunnya di-take-down, sehingga keduanya tidak bisa lagi berkomentar riuh rendah di media sosial.

Dua kejadian terbaru ini berbeda dimensinya tapi mempunyai kesamaan fenomena. Teknologi digital telah mengubah hidup manusia secara revolusioner. Deddy Corbuzier menjadi miliarder dengan penghasilan sampai Rp5 miliar setiap bulan. Ade Armando dan Denny Siregar menjadi komentator politik yang paling aktif berbicara mengenai isu-isu mutakhir lengkap dengan komentar-komentarnya yang kontroversial.

Manusia-manusia aktivis medsos itu hidup dalam dunia digital yang sepenuhnya berbeda dari dunia riil selama ini. Pola hidup mereka berbeda, cara berpikir berbeda, cara berinteraksi dengan lingkungan berbeda. Pendeknya, para aktivis medsos adalah makhluk yang berbeda dengan makhluk riil yang hidup dalam dunia nyata.

Sampai sekarang belum diketahui mengapa Corbuzier tiba-tiba raib. Aktivis medsos lain sering melakukan tindakan sensasional hanya untuk mengerek popularitas, Deddy Corbuzier tidak termasuk aktivis semacam itu.

Ia hampir tidak pernah melakukan hal-hal sensasional hanya sekadar untuk mencari konten. Ia mengisi akun-akun medsosnya dengan konten-konten yang bagus dan cukup mencerdaskan. Ia menjadi top three Youtuber papan atas Indonesia bersama Raffi Ahmad dan Atta Halilintar. Menghilangnya Corbuzier sama misteriusnya dengan misteri sumbangan Rp2 triliun Akidi Tio yang sampai sekarang belum terpecahkan.

Ade Armando dan Denny Siregar dijuluki sebagai panglima medsos, karena selama ini mereka berada di baris paling depan dalam perang medsos di berbagai front. Setiap hari Ade dan Denny menghadapi perlawanan lawan-lawannya di medan medsos, setiap hari Ade dan Denny menyerang lawan-lawannya dengan serbuan-serbuan gencar.

Deddy Corbuzier sedang beraktivitas di Podcast.

Menghilangnya tiga orang aktivis medsos itu masih menjadi misteri. Bermacam-macam spekulasi berkembang untuk menjelaskan peristiwa ini. Jutaan pengikut Corbuzier tidak bisa mendapatkan penjelasan yang memuaskan mengenai kepergian Corbuzier.

Sebagai seorang ilusionis dan mentalis yang hebat Corbuzier bisa saja melakukan trik untuk mengelabui audiensnya dengan tujuan mencari sensasi. Tapi, kelihatannya bukan itu yang sedang dilakukan Corbuzier. Mungkin ia sedang jenuh dengan kehidupan yang tidak riil. Mungkin Corbuzier sengaja menghilang untuk membersihkan diri dari sampah-sampah digital yang selama ini digelutinya setiap detik. Mungkin setelah menghilang Corbuzier ingin menjadi manusia yang normal.

Korban-korban digital sudah banyak berjatuhan. Teknologi ini membawa revolusi yang mengubah hidup manusia. Ada pemenang ada pecundang. Ada yang kaya raya menjadi “digital nouveau riche” OKB digital alias orang kaya baru digital, tapi banyak juga yang menjadi sampah digital, digital rubbish.

Teknologi digital adalah Dewa Janus berkepala dua. Di satu sisi ia adalah pembebas, membuat seseorang menjadi bebas melakukan apa saja dengan hanya sentuh dan geser (touch and swipe). Orang tidak perlu bergerak untuk melakukan apa saja.

Semua tersedia dengan seketika. Tapi, di sisi lain Dewa Janus memperbudak para pengguna teknologi digital, menjadikan hidup tidak real karena setiap hari dipenuhi dengan realitas virtual yang semu.

Budaya digital menjadikan seseorang mager alias malas gerak. Budaya digital mendefinisikan ulang arti sahabat dan persahabatan. Dalam dunia riil, teman adalah kenalan yang kita temui setia saat. Dalam dunia digital, teman tidak pernah kita temui seumur hidup, dan tinggal ribuan kilometer terpisah dari kita.

Teknologi digital menjadi hal yang tak terpisahkan dari kehidupan. Tanpa disadari, teknologi digital membuat pengguna diperbudak oleh gawai. Seharusnya penggunalah yang menjadi tuan dalam mengendalikan penggunaan teknologi digital, tapi dalam praktiknya manusia banyak yang menjadi budak teknologi. Manusia berubah menjadi ‘’One Dimensional Man’’ atau manusia satu dimensi yang kehilangan hakikat kemanusiaannya sebagai makhluk sosial.

Banyak yang sadar bahwa mereka tidak lagi menjadi manusia seperti sebelumnya. Tapi, masih sangat banyak yang tidak menyadari, dan tetap asyik menjadi manusia yang tidak lengkap dimensinya, menjadi budak teknologi digital.

Andrew Sullivan, tobat dan meninggalkan dunia digital.

Andrew Sullivan, seorang aktivis media sosial terkemuka di Amerika adalah korban teknologi digital yang tobat dan berhenti, lalu keluar dari dunia semu itu. Ia mengakui bahwa dunia baru itu memberinya berbagai hal yang sebelumnya sulit dia dapatkan, termasuk kekayaan. Dengan teknologi digital ia dikenal di seluruh penjuru dunia. Karena teknologi digital dia bisa berkeliling dunia dan berbicara di berbagai forum di depan orang-orang terkenal dan penting.

Tapi, di tengah gelimang uang, kekayaan, dan keterkenalan, Sullivan kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu kemanusiaan. Ia baru menyadari bahwa ia tidak lagi menjadi manusia. Atau, ia menjadi manusia tanpa kemanusiaan.

Esai yang ditulisnya menjadi viral di seluruh dunia, judulnya ‘’I Used to be Human’’, Saya Pernah Menjadi Manusia, sebuah pengakuan yang sangat powerful yang menunjukkan bagaimana kecanduan gawai telah menjadi penjara yang membawa penderitaan berkepanjangan.

Sulivan menulis: Dalam beberapa bulan terakhir, saya menyadari bahwa saya telah terlibat dalam penyangkalan seperti kebanyakan pecandu digital lain. Saya telah lama memperlakukan kehidupan online saya sebagai suplemen untuk kehidupan nyata saya, seolah-olah sebagai tambahan. Saya menghabiskan berjam-jam berkomunikasi dengan orang lain sebagai suara tanpa tubuh, padahal kehidupan dan tubuh saya yang sebenarnya masih ada di sini.

Tetapi kemudian saya mulai menyadari, ketika kesehatan dan kebahagiaan saya memburuk, dan itu bukan pilihan. Setiap jam yang saya habiskan online tidak dihabiskan di dunia fisik. Setiap menit saya asyik dengan interaksi virtual, saya tidak terlibat dalam pertemuan dengan manusia.

Sebuah studi kecil pada 2015 menunjukkan bahwa setiap menit di planet ini, pengguna YouTube mengunggah 400 jam video dan pengguna Tinder menggesek profil lebih dari satu juta kali. Setiap hari, ada miliaran “like” di Facebook.

Orang dewasa muda menemukan bahwa mereka menggunakan ponsel mereka lima jam sehari, pada 85 waktu terpisah. Sebagian besar interaksi ini berlangsung kurang dari 30 detik, tetapi jumlahnya bertambah.

Perhatikan sekitar kita dalam antrean untuk minum kopi, atau dalam istirahat kerja cepat, atau mengemudi, atau bahkan hanya pergi ke kamar mandi. Kunjungi bandara dan lihat lautan leher dan kepala yang semuanya menunduk khusyuk. Kita telah beralih dari melihat ke atas dan ke sekeliling menjadi terus-menerus melihat ke bawah.

Jika alien mengunjungi dunia hanya lima tahun yang lalu, lalu kembali hari ini, dia akan menyimpukan bahwa spesies ini telah mengembangkan kebiasaan baru yang luar biasa. Jika Anda menonton pertandingan sepak bola dengan putra Anda sambil menjawab grup WA ke teman, Anda tidak sepenuhnya bersama anak Anda—dan dia tahu itu. Kita sudah tidak nyaman lagi bertemu oang lain dan menggantinya dengan aplikasi.

Kecanduan digital menjadi penyakit yang tidak kalah berat dibanding kecanduan narkoba. Banyak yang akhirnya insaf seperti Andrew Sullivan.

Deddy Corbuzier, mungkin, sedang menempuh pertobatan digital itu. (*)