Anak-anak, Hasbro, Mainan dan Teori Rasisme Kritis

WASHINGTON-KEMPALAN: Sebuah gerakan yang berusaha untuk memaknai budaya Amerika Serikat yang dianggap rasis secara mendasar, .

Anak-anak, Hasbro, Mainan dan Teori Rasisme Kritis

WASHINGTON-KEMPALAN: Sebuah gerakan yang berusaha untuk memaknai budaya Amerika Serikat yang dianggap rasis secara mendasar, Teori Rasisme Kritis (Critical Race Theory/CRT), telah memicu kemarahan dan kekecewaan di antara banyak orang tua di negara itu. Mereka mengungkapkan ketakutannya tentang rencana untuk menerapkan CRT ke dalam kehidupan anak-anak mereka.

Sputnik News, yang mengutip dari Project Veritas, menyampaikan, perusahaan mainan asal AS, Hasbro telah mempromosikan CRT dalam pelatihan internal perusahaannya. Mereka utamanya mengajarkan pada karyawan mengenai rasisme yang melekat pada anak-anak. Rasisme ini diduga muncul semenjak umur lima tahun.

“Mereka ingin memperkenalkan anak-anak ke dalam bias rasial sejak usia dini sebelum mereka benar-benar dapat memahami apa itu ras dan rasisme,” kata David Johnson, seorang insinyur pengemasan Harvey Nash yang dikontrak Hasbro, kepada Veritas pada Minggu (18/7).

Sementara, dalam sebuah wawancara dengan pendiri Project Veritas, James O’Keefe, Johnson mengecam pernyataan yang diduga dibuat selama kursus pelatihan internal Hasbro.

“Tidak masuk akal untuk hanya menyatakan fakta bahwa pada usia dua tahun, anak-anak akan menjadi rasis dan menggunakan ras untuk alasan tentang dengan siapa mereka akan bermain,” tegas Johnson.

Johnson “terkejut” dengan cara pelatih “dengan tegas” menegaskan anak kecil bisa sama rasisnya dengan orang dewasa, menyiratkan bahwa orang tua dari anak-anak tersebut “rasis dalam beberapa cara.” Kontraktor itu mengatakan, hal ini adalah contoh diskriminasi terhadap “seluruh ras manusia.”

Menurut rekaman pelatihan internal yang diperoleh Project Veritas, Katie Ishizuka, salah satu pendiri proyek ‘The Conscious Kid’, yang katanya saat ini bermitra dengan Hasbro, menjelaskan tentang bagaimana anak-anak cenderung “mengekspresikan pilihan berdasarkan ras” dan menunjukkan “perilaku rasis” pada usia dini.

“[Anak-anak] seumur dua [tahun] sudah menggunakan ras untuk alasan tentang perilaku orang. Kita mungkin melihat permainan ini di tempat penitipan anak atau di taman bermain – dan bagaimana anak-anak mulai memilih atau mengecualikan teman bermain dan teman,” katanya seperti yang dikutip Kempalan dari Sputnik News.

Ia juga menyampaikan, anak pada umur tiga hingga enam bulan mulai mengetahui dan mengungkapkan pilihan ras mereka. Pada umur lima tahun, kebanyakan anak-anak akan menunjukkan perilaku rasis yang ada ditunjukkan oleh orang dewasa dimana mereka hidup bersamanya.

“Pada usia lima tahun, anak-anak menunjukkan banyak sikap rasis yang sama yang dimiliki oleh orang dewasa, anak-anak sangat sensitif terhadap status kelompok ras yang berbeda dalam masyarakat kita dan menunjukkan bias status tinggi terhadap orang kulit putih, yang secara sosial [merupakan] kelompok istimewa dalam masyarakat kita. Anak-anak kulit putih menunjukkan bias pro-kulit putih pada usia ini,” kata Ishizuka. (Sputnik News, reza hikam)